BidVertiser

Rabu, 25 Januari 2012

Senyum Terakhir dari Sahabat

SENYUM TERAKHIR (by: Windria Pratiwi)

“Kriiing”. Bel tanda pelajaran usai pun berbunyi. Teman-teman ku bergegas keluar dari kelas. Aku menunggu di samping pintu. Koridor penuh sesak dengan siswa-siswi yang berjejalan menuju gerbang. Aku tidak terlalu suka dengan keramaian, karena itu aku menunggu.
Beberapa menit kemudian keramaian itu surut, syukurlah. Aku bergegas keluar dari kelas. Ups, aku menabrak seseorang. Aku segera memalingkan tubuhku untuk meminta maaf.
“Astaga, Dina.” wajah itu tersenyum memandangku.
Sorry.” kataku lagi.
“Haha.. nggak papa kok. Buru-buru ya?” katanya sambil tertawa.
“Iya nih, jemputanku udah nunggu. Aku males aja kalau harus nerobos anak-anak kayak tadi. Waktu pulang aja pada nafsu gitu.”
“Haha.. iya lah. Kamu juga pasti mau cepet pulang kan?”
“Hehe.. iya aku udah laper banget nih.”
“Udah keliatan kok dari muka kamu. Hehe..”
Aku tersenyum padanya. Kami berjalan sampai di studio musik sekolah. Kami terhenti lagi oleh kerumunan yang ingin masuk ke Studio. Pasti kakak kelas, pikirku. Karena sekarang memang sudah dimulai ujian sekolah. Salah satu pelajaran di sekolah kami adalah seni musik. Dan untuk nilau ujian kelas 3 harus menampilkan pertunjukkan band. Aku melihat ke pintu studio. Ada Kak Romy di situ. Dasar, sok keren banget sih. Aku benci sekali padanya.
“Dia punya banyak fans kan? Temen-temen sekelasku pada ribut ngomongin dia.”
“Hah? Apa?” aku terkejut oleh pertanyaan Dina yang mendadak itu. Apa dia bisa membaca apa yang aku fikirkan?
“Itu. Kak Romy. Tapi kok kamu ngeliatnya kayak gak suka gitu sih?
“Aku emang gak suka tipe cowok yang kayak gitu. Sok cool banget. Lagian bukan selera aku kok.” dan aku sudah punya orang yang aku suka. Lanjutku dalam hati.
“Trus, sukanya yang kayak gimana? Haha..” oh my God! Dasar anak ini.
“Gak tau ahh. Apaan sih?” wajahku memerah.
“Idih gak usah malu gitu.” senyumnya nakal sambil mengedipkan matanya padaku.
“Rahasia! Udah ahh bahas yang lain aja. Gimana Singaphore? Denger kabar kamu habis ke sana kan?”
“Iya. Operasi di sana. Tempatnya bagus lho. Bersih juga, pokoknya asik.” aku terdiam dan mengamati wajahnya. Teman-teman bilang padaku bahwa Dina mempunyai penyakit yang sudah akut. Maka dari itu dia harus ke Singaphore untuk menjalani pengobatan.
“Eh, Ri. Besok Senin angkatan kita camping kan? Wah, asik banget ya. Sayangnya aku nggak bisa ikut.”
“Kamu kan harus jaga kesehatan kamu. Besok aku ceritain deh. Hehe..”
“Huu, masa Cuma diceritain doang? Emang bener sih, tapi aku pengen banget ikut. Tidur bareng temen-temen di tenda kayak sosis guling. Haha..”
“Apaan? Haha.. Orang kita Persami kemaren aja kayak gitu.”
“Ya aku pengen aja. Bisa bareng temen-temen, selagi aku masih hidup.” dia tersenyum padaku. Hatiku tersayat melihat senyum itu.
“Kok kamu ngomong gitu sih? Besok ikut aja waktu persiapan. Hari Sabtu.”
“Iya deh. Aku harap kalian baik-baik aja di sana. Eh, itu jemputanku. Aku duluan ya?” dia menjabat tanganku dan berlari sambil tersenyum padaku.
“Hati-hati ya.” Aku berteriak padanya. Dia melambaikan tangan dan tersenyum padaku untuk yang terakhir. Aku terus mengamatinya sampai mobilnya berbelok di gerbang. Aku pun berjalan menuju mobilku karena Papa sudah menungguku.
Aku terus teringat senyum Dina. Senyum yang tulus, matanya seakan memancarkan berjuta harapan. Kata-katanya pun terngiang di telingaku. “Selagi masih hidup.” Apakah itu ungkapan putus asa, ataukah untuk menyemangati dirinya sendiri? Entahlah, ku harap bisa melihat senyum itu lagi.

Akhirnya dari Sabtu pun tiba. Hari ini tidak ada pelajaran. Hari ini digunakan untuk persiapan camping hari Senin. Koridor-koridor sangat ramai. Aku memandang canda tawa itu. Aku berkumpul dengan teman-teman ku sesampainya di kelas. Kami merencanakan kenakalan-kenakalan yang akan kami lakukan pada saat camping.
Tiba-tiba ada pengumuman dari speaker. Itu suara Bapak Wakil Kepala Sekolah. Teman-temanku mengacuhkan pengumuman itu. Namun aku merasa ada yang tidak beres. Aku meminta teman-temanku untuk diam sebentar.
Keadaan berubah hening ketika pengumuman itu mulai berkumandang di seantero sekolah. Pengumuman itu bermain di kepala ku, terus terngiang-ngiang di pikiranku. Aku tak dapat berkata apa-apa lagi. Begitu pula teman-temanku. Sekolah berubah, dari gedung yang penuh gelak tawa penghuninya, seolah terenggut nyawa begitu saja.
“Inalillahi Wainailaihi Raji’un. Telah meninggal dunia dengan tenang. Sahabat kita, Dina kelas 7B, pada hari Jum’at yang lalu.......”

Tangis pun pecah di seluruh penjuru sekolah. Terutama teman sekelas Dina di kelas 7B. Aku pun tanpa sadar telah meneteskan air mata. Aku menangis tanpa suara. Aku tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Harapku itu semua hanyalah mimpi. Hanya khayalanku semata, aku mencoba untuk bangun dari mimpi buruk ini. Namun percuma, semua itu bukanlah mimpi. Semua itu NYATA! Dina kini telah tiada. Dia pergi menyisakan senyum dan canda tawa di sekolah ini. Di saat kami akan melaksanakan acara yang diharapkannya. Dia benar-benar telah tiada.
Hari ini pun kami berencana pergi melayat ke rumah Dina. Aku tak sanggup. Aku tak ingin lagi kehilangan teman. Namun apa daya, Tuhan telah memanggil Dina ke Surga-Nya yang NYATA.