PENGHIANATAN CINTA (By: Windria Pratiwi)
Ku
lirik handphone ku lagi, tetap bergeming. Kenapa
sih dia belum telepon? Apa dia lupa kalau mau jemput aku? Ku habiskan
minuman yang tersisa di gelas. Uhh,
selalu aja telat! Pasti batal lagi! Kenapa kamu nggak pernak ngertiin perasaan aku?
Ku lahkahkan kakiku mengitari meja. Aku benar-benar tidak tahan lagi.
Praaaaaaang! Gelas yang dari tadi ada di genggamanku hancur berkeping-keping
menghantam dinding. Suara langkah kaki tergopoh mendekatiku.
“Kamu
nggak apa, Cin?” sosok itu tertegun melihat gelas yang hancur dan mataku yang
berlinang air mata.
“Princess, are you okay?” ia terus
melangkah mendekatiku dan merengkuh pelan tubuhku.
“Udah,
nggak papa. Mungkin Nicko ada acara mendadak. Jadi nggak bisa jemput kamu.”
“Tapi
ini udah yang kesekian kalinya kak, Cindy capek.”
“Ya
udah, sekarang kamu mending istirahat aja di kamar. Biar besok kakak yang
ngomong sama Nicko.”
“Nggak
usah kak, Cindy gak mau ngerepotin kakak lagi. Biar Cindy yang nyelesain ini
semua.”
“Kalau
itu mau kamu kakak cuma bisa ngasih do’a.”
“Iya
kak. Makasih ya kak. Cindy sayang kakak. Good
Night kak.”
“Night, too princess. Have a nice dream.”
Kriiiiiiing.
Duh berisik banget sih alarmnya. Akhirnya pagi yang kutunggu-tunggu datang.
Hari ini juga aku harus minta penjelasan sama Nicko.
“Udah
mau berangkat? Nggak sarapan dulu Cin?”
“Nggak
kak. Cindy buru-buru. Mobilnya siap kan kak?”
“Siap
tuan putri. Hati-hati ya, jangan lupa makan di sekolah nanti.”
“Iya
kak.”
Langsung
ku pacu mobilku di jalanan Yogyakarta yang cukup lengang. Sebenarnya memang
masih terlalu pagi aku berangkat. Aku cuma mau cepet ketemu Nicko. Berjuta
perasaan berkecamuk dalam dadaku. Di satu sisi, aku marah, kesal, kecewa sama
Nicko. Tapi di sisi lain aku rindu, rindu akan cinta dan sayang yang tak bisa
dibendung lagi. Aku rindu senyumnya. Beberapa hari ini aku nggak ketemu Nicko.
Dan setelah sekian lama gelisah menyelimutiku, segala harapan itu pupus oleh
air mata kecewa. Lagi. Ini sudah kesekian kalinya Nicko ngecewain aku. Tapi
hati ini terlalu besar menyiimpan cinta untuknya. Nicko, Cindy kangen. Cindy pengen ketemu.”
“Sorry banget Cin, Nicko tadi telepon aku
katanya nggak masuk.”
“Apa?
Nggak masuk? Kenapa? Dia kok gak bilang sama aku? Dia gak titip apa-apa buat
aku?”
“Dia
nggak bilang apa-apa soal kamu Cin, sorry.
Handphone nya juga gak aktif sekarang.”
“Ya
udah, makasih ya. Aku langsung ke kelas dulu.”
“Iya,
hati-hati ya Cin.”
Dengan langkah gontai aku terpaksa
kembali ke kelas. Kepalaku terasa berat. Pandanganku kabur. Gelap. Bruukk.. Aku
jatuh tak sadarkan diri.
Kenapa silau di sini?
Cahaya apa itu? Kamu kah itu Nicko? Aku kenal aroma ini, Rumah Sakit.
“Akhirnya
kamu sadar, sayang.”
“Aku
kenapa kak?”
“Justru
kakak yang mau tanya sama kamu. Kamu kenapa? Tadi Lyla telepon kakak, katanya
kamu pingsan di sekolah. Karena belom makan ya?”
“Gak
tau kak. Kak, Nicko di mana?”
“Nicko
di luar. Bentar lagi juga masuk. Itu lagi dipanggil Lyla.”
Astaga!
Aku nggak percaya sama apa yang aku lihat, ini pasti mimpi.
“Hei,
Cin. Gimana kabar kamu? Sorry ya
semalem aku nggak jadi jemput kamu.” aku hanya terdiam. Tatapanku kosong
menatap sosok yang berdiri di samping Nicko.
“Kamu
pasti penasaran sama cewek yang ada di samping aku. Itu tujuanku ke sini Cin,
aku mau jelasin semuanya ke kamu. Aku harap kamu bisa ngerti Cin. Aku udah
ngomongin ini sama Kak Daniel. Sebelumnya aku minta maad karena sering
ngecewain kamu. Aku sayang sama kamu Cin. Tapi aku harus tetap nentuin pilihan,
dan aku pikir ini yang terbaik. Aku mau kamu bahagia, dan aku juga tau
kebahagiaan kamu bukan sama aku. Cin, kenalin ini tunanganku, Maya. Maya
ngandung anak aku, udah 2 bulan. Aku nggak tau ini bakal kejadian. Waktu itu
aku ketemu Maya di Club dalam keadaan mabuk. Aku jatuh, dan Maya memapah aku ke
kamar. Dan tanpa sadar...”
Aku gak percaya. Aku udah nggak mau
denger lagi Nicko. Jangan diterusin lagi. Nggak mungkin! Pasti ini semua
bohong! Ini pasti mimpi! Tiba-tiba gelap disekelilingku. Aku pingsan lagi.
Roda kehidupan berputar. Perlahan
namun pasti. Seakan tak akan pernah mati. Aku berputar tertelan arus. Tak
selamanya manusia berada di atas. Ada kalanya berada di bawah. Namun, egoku
berkata, hidupku tak pernah terbang. Selalu tersungkur di tanah, tergilas
roda-roda kesengsaraan, tercambuk kepedihan. Hanya menatap nanar
harapan-harapan yang menguap tanpa bekas. Namun jiwaku tak kan menyerah, hancur
menghantam api. Kan ku kembangkan sayap-sayap rapuhku. Perlahan, terbang menuju
nirwana keindahan.
Hidupku
telah hancur, Nicko pergi meninggalkanku dengan cara yang menyakitkan. Dan
sekarang, aku terdiam di atas kursi rodaku. Penyakit yang telah lama bersarang
dalam tubuhku semakin parah. Dokter bilang aku masih beruntung karena virus itu
ridak menyerang organ tubuhku yang lain. Sehingga tidak memicu penyakit lain.
Namun sebaliknya, aku berharap penyakit ini cepat menggerogoti tubuhku. Aku tak
tahan. Aku rasa mati lebih baik. Aku tahu Lyla dan Kak Daniel sedari tadi terus
memperhatikanku. Aku tak peduli. Mereka adalah alasan lain mengapa aku ingin
cepat meninggalkan dunia ini. Tak ingin lagi aku melihat tatapan mereka. Sedih
yang teramat dalam. Itu hanya membuat batinku semakinn terpuruk.
“Sayang,
ada temen kamu datang njenguk kamu. Kakak suruh masuk ya?”
Aku
tersadar dari lamunanku. Hhh.. aku nggak mau diganggu dulu. Tapi kasihan Kak
Daniel. Aku hanya mengangguk pelan. Kak Daniel tersenyum dan langsung lari ke
depan. Hangat mengaliri dadaku. Senyum Kak Daniel seperti “sihir”.
“Hai,
Cin?”
Ternyata
Raka. Aku hanya tersenyum lemah.
“Gimana
keadaan kamu? Aku udah denger masalah Nicko. Kemarin heboh banget di sekolah.
Katanya Nicko mau di DO.”
“Sorry.” hanya itu yang bisa ku katakan.
Aku tak mau dengar apa-apa lagi tentang Nicko.
“Eh,
sorry Cin. Aku nggak bermaksud. Hmm, ini catetan-catetan
selama kamu opname. Udah aku salin buat kamu. Ya emang sih kamu belum bisa buat
mikir kayak gitu. Tapi...”
“Thanks.” aku nggak tahan ngeliat dia
jadi salah tingkah gitu.
“Em,
iya. Hehe.. kamu udah minum obat Cin?”
Aku
hanya memberi kode dengan mataku. Raka mengerti. Dia melihat semangkuk bubur
dan botol obat yang belum tersentuh. Dia tersenyum kecut memandangku.
“Segitu
parahnya kamu ngerasa kehilangan Nicko? Nyampe kamu berpikir mati lebih baik
daripada kamu kehilangan Nicko? Huh!”
Deg!
Apa maksud Raka? Aku menoleh ke Raka, dan dalam sekejap dia merunduk padaku,
sehingga wajahnya dekat sekali dengan wajahku.
“Asal
kamu tahu, Cin. Aku nggak akan
pernah nglakuin hal kayak gitu. Aku nggak akan pernak nyakitin orang yang aku
sayang. Itu kamu Cin, kamu yang aku sayang.”
Raka semakin mendekatkan
wajahnya padaku. Jantungku mencelos. Apa dia mau menciumku di sini. Aku
memejamkan mataku dan mencoba menjauhkan diri. Tapi kepalaku terhalang sandaran
kursi roda. God, help me !
“Kenapa, Cin? Kamu takut?
Kamu nggak mau aku cium? Aku ragu, apa kamu juga ngehindar kalo Nicko yang mau
nyium kamu?”
Kata-kata itu terdengar
ketus. Aku membuka mataku. Raka menatapku dengan tatapan kosong. Lalu dia
berbalik membelakangiku. Apa aku udah nyakitin dia? Ingin rasanya aku bangkit
dan memeluknya. Tapi kaku dan tanganku tak bisa bergerak.
“Besok aku ke sini lagi. Anak-anak
mau njenguk kamu besok. Mereka berdoa supaya kamu cepet gabung lagi. Udah ya,
aku mau pulang. Bye.”
Kali
ini aku benar-benar speechless. Suaraku
tak mau keluar. Aku hanya bisa menatap punggung Raka yang semakin menjauh
dariku. Air mataku tak terbendung lagi. Akhirnya aku hanya bisa menangis.
Hatiku tersayat melihat kepedihan itu.
Aku masih belum terbiasa
dengan kursi roda ini. Berkali-kali aku jatuh tersungkur dari kursiku. Untung
Kak Daniel tetap setia menemaniku. Dia mengambil cuti kuliah untuk merawatku di
rumah. Aku ingin cepat sembuh. Kasihan Kak Daniel. Gara-gara aku, dia harus
ketinggalan banyak materi kuliah. Kak Daniel terus berusaha menyuapkan bubur ke
mulutku. Wajahnya pucat, dan lebih kurus, lingkaran matanya hitam dengan
kantung mata. Perlahan pipiku basah. Aku menangis. Kuusap mataku saat Kak
Daniel berpaling. Aku nggak mau bikin kakak tambah sedih.
“Kak.” bibirku bergumam
pelan.
“Iya, sayang. Ada apa? Mau
minum?” senyum hangat menghiasi wajah lelah itu.
“Nggak kak. Cindy udah
cukup. Kakak istirahat aja dulu, muka kakak pucat banget.”
“Nggak sayang. Kakak
baik-baik aja. Kakak cuma agak ngantuk kok. Udah biasa.”
“Jangan buat Cindy lebih
parah dari ini kak.”
“Kakak nggak bisa ninggalin
kamu sendiri.”
“Cindy nggak sendiri. Cindy
tetep sama kakak.”
“Tapi kalo kamu butuh
apa-apa gimana?”
“Kakak, Cindy bukan anak
kecil lagi. Meskipun Cidy terhalang roda ini, Cindy pasti bisa.”
“Kakak percaya kamu bisa.
Tapi…”
“Kak, percaya sama Cindy.
Lagian bentar lagi temen-temen Cindy dateng. Mereka bisa jagain Cindy.”
“Ya udah. Nanti kakak
istirahat kalo temen-temen kamu udah dateng.”
Aku tersenyum. Kak Daniel
membalas senyumanku. Aku memandang kolam yang ada di depanku. Rasanya ingin
sekali aku menceburkan diri ke sana. Tenggelam oleh angan-angan. Namun kenyataan
menamparku dengan tangan-tangan penuh kesengsaraan. Perih. Wajahku memanas. Air
mataku ingin keluar lagi.
Ting..tong..Aku terkejut
mendengar suara bel rumahku. Begitu juga Kak Daniel. Dan ternyata tanpa
sepengetahuanku sedari tadi Kak Daniel tidur dalam posisi duduk. Rasanya dadaku
terhimpit batu yang amat besar melihat Kak Daniel terhuyung lari ke pintu
depan. Sesaat kemudian Kak Daniel kembali bersama teman-teman sekelasku. Aku
tersenyum lemah menyambut kedatangan mereka. Satu persatu mereka menyalami dan
memelukku.
“Cin, kita kangen banget
sama kamu. Rasanya kelas sepi banget tanpa kamu. Hmm, kita turut berduka ya
atas Nicko. Dia tu emang brengsek, tega banget dia nyakitin kamu kayak gitu.
Kalo aku jadi kamu ya….”
“Hush! Diem kenapa! Berisik
tau!”
Aku tertawa renyah melihat
kekonyolan teman-temanku. Oh guys, gimana coba nasib aku kalau gak ada kalian.
Tiba-tiba Lyla menggenggam tanganku.
“See, kamu gak sendirian Cin. Kita di sini ada buat kamu. Kita semua
sayang kamu.”
Teman-teman ku tersenyum
padaku. Aku membalas senyum mereka.
“Thanks guys, aku udah bego banget nganggep aku gak punya
siapa-siapa lagi semenjak si brengsek itu pergi.”
“Nggak sayang, kamu gak
bego! Justru Nicko yang bego udah ninggalin bidadari secantik kamu buat cewek
yang gak jelas itu. Hiyy..Iya gak La?”
“Yo’i! Eh, By the way, tadi Raka titip salam buat
kamu. Dia bilang sorry banget gak bisa ikut.”
“Iya.” cuma itu yang bisa
aku katakana. Aku ngerasa bersalah banget udah nyakitin perasaan Raka. Aku…
Drrt…Drrt…Drrt…Ponselku berbunyi. SMS DARI RAKA! “Cindy sayang, maaf aku gak bisa ikut njenguk kamu. Aku ada urusan yang harus aku
selesaiin sekarang juga. Kamu gak perlu mikirin yang aneh-aneh, aku gak marah
kok sama kamu. Santai aja. Oh iya Cin, aku mau ngomong sama kamu. Sebenernya
aku pengen ngomong langsung sama kamu. AKU CINTA KAMU CINDY ! Aku bakal buktiin
cinta aku ke kamu sekarang. Dan kalau udah saatnya, aku akan ngomong langsung
sama kamu. Orang yang sangat mencintai kamu, RAKA!”
Deg!
Apa maksud Raka? Apa yang dia lakuin? Aku langsung menekan tombol hijau pada
ponselku. Nomor Raka nggak aktif! Oh, Tuhan, ada apa ini? Jangan ambil Raka
juga Tuhan. Aku juga sayang dia.
Tanpa
sadar air mataku mengalir. Lyla sadar aku menangis. “Ada apa, Cin?” langsung
kusodorkan SMS dari Raka pada Lyla. Setelah membaca itu Lyla langsung
memelukku. Aku menangis dalam pelukannya. Teman-temanku bingung melihatku
menangis. Tapi mereka mengerti, dan tak ada yang bertanya. Yang mereka lakukan
hanya membelai bahuku pelan dan berkata, “Sabar ya Cin, ini semua cobaan buat
kamu. Pasti dibalik semua ini ada kebahagiaan buat kamu.”
Aku hanya mengangguk di sela
tangisku. Aku tak akan sanggup jika harus kehilangan Raka juga.
Sekarang
hari Rabu, teman-teman ku sekolah. Kak Daniel aku paksa masuk kuliah, kasihan
ketinggalan banyak mata kuliah. Aku sendirian deh. Kursi roda masih setia
menemani hari-hariku. Tapi sekarang aku sudah lancar mengendalikannya. Maka
dari itu aku udah gak perlu Kak Daniel lagi buat dorong kursi rodaku. Aku
sendirian nonton TV di ruang keluarga. Huh bosen banget! Gak ada acara yang
menarik, isinya cuma masalah korupsi dan korupsi. Aku sambar ponselku yang ada
di meja sebelah. Pada saat bersamaan ada telepon masuk dari Lyla.
“Halo.”
“Cin,
kamu buruan ganti baju. Aku jemput kamu sekarang.”
“Kenapa
La? Bukannya sekarang kamu sekolah?”
“Pokoknya
nurut aja! Oke? Bye!”
“Tap...”
tuut...tuut...tuut...
Sopan
banget sih asal tutup telepon aja! Ada apa lagi ini? Jantungku berdetak
kencang. Langsung aku putar kursi rodaku menuju kamar. Setelah ganti baju aku
langsung ke pintu depan. Lyla datang dengan mobulnya. Dia membantuku naik ke
mobil tanpa bicara apapun.
“La?
Kita mau kemana?” tetap bergeming. Akhirnya...
“Raka
masuk Rumah Sakit. Percaya atau nggak, perut Raka ditusuk sama Nicko. Waktu
kita ke rumah kamu, ternyata Raka nyamperin Nicko. Karena waktu itu ada Maya,
Nicko gak beranni ngapa-ngapain. Tapi besoknya, Maya ninggalin Nicko. Karena
ternyata selama hamil 2 bulan itu Maya juga berhubungan intim sama cowok lain,
dan dia pergi sama cowok itu. Nicko marah besar, tapi bukannya nyari cowok yang
ngambil Maya, dia malah dateng ke kost nya Raka. Dan kamu pasti udah tau
kelanjutannya. Aku juga baru tau masalah ini dari temen satu kost Raka. Makanya
aku izin dari sekolah dan jemput kamu. Nicko masuk penjara karena mau mbunuh
Raka. Raka masuk Rumah sakit, dia pendarahan cukup serius.”
“Te...terus?Gi...gimana
Ra...Ka?” aku tertegun mendengar cerita Lyla. Ya Tuhan, aku udah bikin Raka
menderita.
“Alhamdulillah
Raka selamat. Tapi anehnya, dia terus-terusan manggil nama kamu Cin. Padahal
dia belum siuman. Makanya aku ngajak kamu njenguk Raka.”
Aku
udah nggak bisa ngomong sepatah kata pun. Di benakku cuma ada Raka. Raka yang
tulus sayang sama aku. Raka yang menyadarkan aku. Raka...yang sekarang
terbaring lemah karnaku. Ya Tuhan, aku mohon banget. Selamatkan Raka Tuhan,
Raka segalanya buat aku.
“Cin...Cin,
kita udah nyampe.”
“Eh,
nyampe?” aku kaget Lyla memanggilku.
“Ayo
buruan!” Lyla mendorong kursi rodaku menuju kamar Raka.
“Dok,
Raka gimana? Udah boleh ditengok?”
“Boleh,
tapi tolong jangan terlalu dipaksa ya mbak. Dia masih butuh istirahat.”
“Iya
dok, terima kasih.”
Aku
terpekik melihat sosok yang terbaring dengan infus yang tergantung di atasnya.
Dan perut yang terbalut perban berdarah. Itu Raka! Seakan memiliki kekuatan
baru, aku berdiri dari kursi rodaku dan perlahan mendekati pembaringan itu.
Kugenggam lembut tangan Raka, ku tatap wajahnya. Air matanya menetes perlahan,
ku tatap matanya. Mata itu terbuka perlahan, mata yang sangat aku rindukan.
“Itu
kamu, Cin?” air mataku sudah tak terbendung lagi. Aku meraung dan memeluk Raka.
Raka membelai lembut rambutku.
“Aku
udah balas rasa sakit kamu, Cin. Nicko....”
“Justru
kamu yang sekarang bikin hati aku sakit! Kenapa kamu ngelakuin semua ini?
Aku...aku takut kehilangan kamu Raka!”
“Ssttt...jangan
nangis gitu ahh. Ntar kalo suster masuk kamu malah diusir. Aku kan masih kangen
sama kamu. Hehe...”
“Kamu!
Masih sempet-sempetnya bercanda! Tau gak sih aku khawatir banget sama kamu!”
“Aku
gak mau lihat kamu nangis sayang.” tangisku semakin menjadi-jadi.
“Aku
sayang kamu Cin.”
“Aku
juga sayang kamu Raka.”
Raka
tersenyum. Aku berpaling pada Lyla. Lyla pun tersenyum dan mengacungkan ibu
jarinya padaku.
“Setelah
ini, kalian bisa bahagia berdua. Nggak ada lagi yang harus kalian risaukan.”
aku melepas genggaman Raka dan menghambur ke pelukan Lyla.
“Thanks
La. Kamu emang sahabat terbaik aku.”
“Sama-sama
Cin. Habis ini janji ya nggak nangis lagi?”
“Iya.”
itu janjiku. Tuhan, jangan rebut lagi senyum mereka dariku.









