BidVertiser

Rabu, 22 Februari 2012

LOVE STORY


PENGHIANATAN CINTA (By: Windria Pratiwi)

Ku lirik handphone ku lagi, tetap bergeming. Kenapa sih dia belum telepon? Apa dia lupa kalau mau jemput aku? Ku habiskan minuman yang tersisa di gelas. Uhh, selalu aja telat! Pasti batal lagi! Kenapa kamu nggak pernak ngertiin perasaan aku? Ku lahkahkan kakiku mengitari meja. Aku benar-benar tidak tahan lagi. Praaaaaaang! Gelas yang dari tadi ada di genggamanku hancur berkeping-keping menghantam dinding. Suara langkah kaki tergopoh mendekatiku.
“Kamu nggak apa, Cin?” sosok itu tertegun melihat gelas yang hancur dan mataku yang berlinang air mata.
Princess, are you okay?” ia terus melangkah mendekatiku dan merengkuh pelan tubuhku.
“Udah, nggak papa. Mungkin Nicko ada acara mendadak. Jadi nggak bisa jemput kamu.”
“Tapi ini udah yang kesekian kalinya kak, Cindy capek.”
“Ya udah, sekarang kamu mending istirahat aja di kamar. Biar besok kakak yang ngomong sama Nicko.”
“Nggak usah kak, Cindy gak mau ngerepotin kakak lagi. Biar Cindy yang nyelesain ini semua.”
“Kalau itu mau kamu kakak cuma bisa ngasih do’a.”
“Iya kak. Makasih ya kak. Cindy sayang kakak. Good Night kak.”
Night, too princess. Have a nice dream.”

Kriiiiiiing. Duh berisik banget sih alarmnya. Akhirnya pagi yang kutunggu-tunggu datang. Hari ini juga aku harus minta penjelasan sama Nicko.
“Udah mau berangkat? Nggak sarapan dulu Cin?”
“Nggak kak. Cindy buru-buru. Mobilnya siap kan kak?”
“Siap tuan putri. Hati-hati ya, jangan lupa makan di sekolah nanti.”
“Iya kak.”
Langsung ku pacu mobilku di jalanan Yogyakarta yang cukup lengang. Sebenarnya memang masih terlalu pagi aku berangkat. Aku cuma mau cepet ketemu Nicko. Berjuta perasaan berkecamuk dalam dadaku. Di satu sisi, aku marah, kesal, kecewa sama Nicko. Tapi di sisi lain aku rindu, rindu akan cinta dan sayang yang tak bisa dibendung lagi. Aku rindu senyumnya. Beberapa hari ini aku nggak ketemu Nicko. Dan setelah sekian lama gelisah menyelimutiku, segala harapan itu pupus oleh air mata kecewa. Lagi. Ini sudah kesekian kalinya Nicko ngecewain aku. Tapi hati ini terlalu besar menyiimpan cinta untuknya. Nicko, Cindy kangen. Cindy pengen ketemu.”
Sorry banget Cin, Nicko tadi telepon aku katanya nggak masuk.”
“Apa? Nggak masuk? Kenapa? Dia kok gak bilang sama aku? Dia gak titip apa-apa buat aku?”
“Dia nggak bilang apa-apa soal kamu Cin, sorry. Handphone nya juga gak aktif sekarang.”
“Ya udah, makasih ya. Aku langsung ke kelas dulu.”
“Iya, hati-hati ya Cin.”
Dengan langkah gontai aku terpaksa kembali ke kelas. Kepalaku terasa berat. Pandanganku kabur. Gelap. Bruukk.. Aku jatuh tak sadarkan diri.

Kenapa silau di sini? Cahaya apa itu? Kamu kah itu Nicko? Aku kenal aroma ini, Rumah Sakit.
“Akhirnya kamu sadar, sayang.”
“Aku kenapa kak?”
“Justru kakak yang mau tanya sama kamu. Kamu kenapa? Tadi Lyla telepon kakak, katanya kamu pingsan di sekolah. Karena belom makan ya?”
“Gak tau kak. Kak, Nicko di mana?”
“Nicko di luar. Bentar lagi juga masuk. Itu lagi dipanggil Lyla.”
Astaga! Aku nggak percaya sama apa yang aku lihat, ini pasti mimpi.
“Hei, Cin. Gimana kabar kamu? Sorry ya semalem aku nggak jadi jemput kamu.” aku hanya terdiam. Tatapanku kosong menatap sosok yang berdiri di samping Nicko.
“Kamu pasti penasaran sama cewek yang ada di samping aku. Itu tujuanku ke sini Cin, aku mau jelasin semuanya ke kamu. Aku harap kamu bisa ngerti Cin. Aku udah ngomongin ini sama Kak Daniel. Sebelumnya aku minta maad karena sering ngecewain kamu. Aku sayang sama kamu Cin. Tapi aku harus tetap nentuin pilihan, dan aku pikir ini yang terbaik. Aku mau kamu bahagia, dan aku juga tau kebahagiaan kamu bukan sama aku. Cin, kenalin ini tunanganku, Maya. Maya ngandung anak aku, udah 2 bulan. Aku nggak tau ini bakal kejadian. Waktu itu aku ketemu Maya di Club dalam keadaan mabuk. Aku jatuh, dan Maya memapah aku ke kamar. Dan tanpa sadar...”
Aku gak percaya. Aku udah nggak mau denger lagi Nicko. Jangan diterusin lagi. Nggak mungkin! Pasti ini semua bohong! Ini pasti mimpi! Tiba-tiba gelap disekelilingku. Aku pingsan lagi.

Roda kehidupan berputar. Perlahan namun pasti. Seakan tak akan pernah mati. Aku berputar tertelan arus. Tak selamanya manusia berada di atas. Ada kalanya berada di bawah. Namun, egoku berkata, hidupku tak pernah terbang. Selalu tersungkur di tanah, tergilas roda-roda kesengsaraan, tercambuk kepedihan. Hanya menatap nanar harapan-harapan yang menguap tanpa bekas. Namun jiwaku tak kan menyerah, hancur menghantam api. Kan ku kembangkan sayap-sayap rapuhku. Perlahan, terbang menuju nirwana keindahan.
Hidupku telah hancur, Nicko pergi meninggalkanku dengan cara yang menyakitkan. Dan sekarang, aku terdiam di atas kursi rodaku. Penyakit yang telah lama bersarang dalam tubuhku semakin parah. Dokter bilang aku masih beruntung karena virus itu ridak menyerang organ tubuhku yang lain. Sehingga tidak memicu penyakit lain. Namun sebaliknya, aku berharap penyakit ini cepat menggerogoti tubuhku. Aku tak tahan. Aku rasa mati lebih baik. Aku tahu Lyla dan Kak Daniel sedari tadi terus memperhatikanku. Aku tak peduli. Mereka adalah alasan lain mengapa aku ingin cepat meninggalkan dunia ini. Tak ingin lagi aku melihat tatapan mereka. Sedih yang teramat dalam. Itu hanya membuat batinku semakinn terpuruk.
“Sayang, ada temen kamu datang njenguk kamu. Kakak suruh masuk ya?”
Aku tersadar dari lamunanku. Hhh.. aku nggak mau diganggu dulu. Tapi kasihan Kak Daniel. Aku hanya mengangguk pelan. Kak Daniel tersenyum dan langsung lari ke depan. Hangat mengaliri dadaku. Senyum Kak Daniel seperti “sihir”.
“Hai, Cin?”
Ternyata Raka. Aku hanya tersenyum lemah.
“Gimana keadaan kamu? Aku udah denger masalah Nicko. Kemarin heboh banget di sekolah. Katanya Nicko mau di DO.”
Sorry.” hanya itu yang bisa ku katakan. Aku tak mau dengar apa-apa lagi tentang Nicko.
“Eh, sorry Cin. Aku  nggak bermaksud. Hmm, ini catetan-catetan selama kamu opname. Udah aku salin buat kamu. Ya emang sih kamu belum bisa buat mikir kayak gitu. Tapi...”
Thanks.” aku nggak tahan ngeliat dia jadi salah tingkah gitu.
“Em, iya. Hehe.. kamu udah minum obat Cin?”
Aku hanya memberi kode dengan mataku. Raka mengerti. Dia melihat semangkuk bubur dan botol obat yang belum tersentuh. Dia tersenyum kecut memandangku.
“Segitu parahnya kamu ngerasa kehilangan Nicko? Nyampe kamu berpikir mati lebih baik daripada kamu kehilangan Nicko? Huh!”
Deg! Apa maksud Raka? Aku menoleh ke Raka, dan dalam sekejap dia merunduk padaku, sehingga wajahnya dekat sekali dengan wajahku.
“Asal kamu tahu, Cin. Aku nggak akan pernah nglakuin hal kayak gitu. Aku nggak akan pernak nyakitin orang yang aku sayang. Itu kamu Cin, kamu yang aku sayang.”
Raka semakin mendekatkan wajahnya padaku. Jantungku mencelos. Apa dia mau menciumku di sini. Aku memejamkan mataku dan mencoba menjauhkan diri. Tapi kepalaku terhalang sandaran kursi roda. God, help me !
“Kenapa, Cin? Kamu takut? Kamu nggak mau aku cium? Aku ragu, apa kamu juga ngehindar kalo Nicko yang mau nyium kamu?”
Kata-kata itu terdengar ketus. Aku membuka mataku. Raka menatapku dengan tatapan kosong. Lalu dia berbalik membelakangiku. Apa aku udah nyakitin dia? Ingin rasanya aku bangkit dan memeluknya. Tapi kaku dan tanganku tak bisa bergerak.
“Besok aku ke sini lagi. Anak-anak mau njenguk kamu besok. Mereka berdoa supaya kamu cepet gabung lagi. Udah ya, aku mau pulang. Bye.”
Kali ini aku benar-benar speechless. Suaraku tak mau keluar. Aku hanya bisa menatap punggung Raka yang semakin menjauh dariku. Air mataku tak terbendung lagi. Akhirnya aku hanya bisa menangis. Hatiku tersayat melihat kepedihan itu.

Aku masih belum terbiasa dengan kursi roda ini. Berkali-kali aku jatuh tersungkur dari kursiku. Untung Kak Daniel tetap setia menemaniku. Dia mengambil cuti kuliah untuk merawatku di rumah. Aku ingin cepat sembuh. Kasihan Kak Daniel. Gara-gara aku, dia harus ketinggalan banyak materi kuliah. Kak Daniel terus berusaha menyuapkan bubur ke mulutku. Wajahnya pucat, dan lebih kurus, lingkaran matanya hitam dengan kantung mata. Perlahan pipiku basah. Aku menangis. Kuusap mataku saat Kak Daniel berpaling. Aku nggak mau bikin kakak tambah sedih.
“Kak.” bibirku bergumam pelan.
“Iya, sayang. Ada apa? Mau minum?” senyum hangat menghiasi wajah lelah itu.
“Nggak kak. Cindy udah cukup. Kakak istirahat aja dulu, muka kakak pucat banget.”
“Nggak sayang. Kakak baik-baik aja. Kakak cuma agak ngantuk kok. Udah biasa.”
“Jangan buat Cindy lebih parah dari ini kak.”
“Kakak nggak bisa ninggalin kamu sendiri.”
“Cindy nggak sendiri. Cindy tetep sama kakak.”
“Tapi kalo kamu butuh apa-apa gimana?”
“Kakak, Cindy bukan anak kecil lagi. Meskipun Cidy terhalang roda ini, Cindy pasti bisa.”
“Kakak percaya kamu bisa. Tapi…”
“Kak, percaya sama Cindy. Lagian bentar lagi temen-temen Cindy dateng. Mereka bisa jagain Cindy.”
“Ya udah. Nanti kakak istirahat kalo temen-temen kamu udah dateng.”
Aku tersenyum. Kak Daniel membalas senyumanku. Aku memandang kolam yang ada di depanku. Rasanya ingin sekali aku menceburkan diri ke sana. Tenggelam oleh angan-angan. Namun kenyataan menamparku dengan tangan-tangan penuh kesengsaraan. Perih. Wajahku memanas. Air mataku ingin keluar lagi.
Ting..tong..Aku terkejut mendengar suara bel rumahku. Begitu juga Kak Daniel. Dan ternyata tanpa sepengetahuanku sedari tadi Kak Daniel tidur dalam posisi duduk. Rasanya dadaku terhimpit batu yang amat besar melihat Kak Daniel terhuyung lari ke pintu depan. Sesaat kemudian Kak Daniel kembali bersama teman-teman sekelasku. Aku tersenyum lemah menyambut kedatangan mereka. Satu persatu mereka menyalami dan memelukku.
“Cin, kita kangen banget sama kamu. Rasanya kelas sepi banget tanpa kamu. Hmm, kita turut berduka ya atas Nicko. Dia tu emang brengsek, tega banget dia nyakitin kamu kayak gitu. Kalo aku jadi kamu ya….”
“Hush! Diem kenapa! Berisik tau!”
Aku tertawa renyah melihat kekonyolan teman-temanku. Oh guys, gimana coba nasib aku kalau gak ada kalian. Tiba-tiba Lyla menggenggam tanganku.
See, kamu gak sendirian Cin. Kita di sini ada buat kamu. Kita semua sayang kamu.”
Teman-teman ku tersenyum padaku. Aku membalas senyum mereka.
Thanks guys, aku udah bego banget nganggep aku gak punya siapa-siapa lagi semenjak si brengsek itu pergi.”
“Nggak sayang, kamu gak bego! Justru Nicko yang bego udah ninggalin bidadari secantik kamu buat cewek yang gak jelas itu. Hiyy..Iya gak La?”
“Yo’i! Eh, By the way, tadi Raka titip salam buat kamu. Dia bilang sorry banget gak bisa ikut.”
“Iya.” cuma itu yang bisa aku katakana. Aku ngerasa bersalah banget udah nyakitin perasaan Raka. Aku… Drrt…Drrt…Drrt…Ponselku berbunyi. SMS DARI RAKA! “Cindy sayang, maaf aku gak bisa ikut njenguk kamu. Aku ada urusan yang harus aku selesaiin sekarang juga. Kamu gak perlu mikirin yang aneh-aneh, aku gak marah kok sama kamu. Santai aja. Oh iya Cin, aku mau ngomong sama kamu. Sebenernya aku pengen ngomong langsung sama kamu. AKU CINTA KAMU CINDY ! Aku bakal buktiin cinta aku ke kamu sekarang. Dan kalau udah saatnya, aku akan ngomong langsung sama kamu. Orang yang sangat mencintai kamu, RAKA!”
Deg! Apa maksud Raka? Apa yang dia lakuin? Aku langsung menekan tombol hijau pada ponselku. Nomor Raka nggak aktif! Oh, Tuhan, ada apa ini? Jangan ambil Raka juga Tuhan. Aku juga sayang dia.
Tanpa sadar air mataku mengalir. Lyla sadar aku menangis. “Ada apa, Cin?” langsung kusodorkan SMS dari Raka pada Lyla. Setelah membaca itu Lyla langsung memelukku. Aku menangis dalam pelukannya. Teman-temanku bingung melihatku menangis. Tapi mereka mengerti, dan tak ada yang bertanya. Yang mereka lakukan hanya membelai bahuku pelan dan berkata, “Sabar ya Cin, ini semua cobaan buat kamu. Pasti dibalik semua ini ada kebahagiaan buat kamu.”
Aku hanya mengangguk di sela tangisku. Aku tak akan sanggup jika harus kehilangan Raka juga.

Sekarang hari Rabu, teman-teman ku sekolah. Kak Daniel aku paksa masuk kuliah, kasihan ketinggalan banyak mata kuliah. Aku sendirian deh. Kursi roda masih setia menemani hari-hariku. Tapi sekarang aku sudah lancar mengendalikannya. Maka dari itu aku udah gak perlu Kak Daniel lagi buat dorong kursi rodaku. Aku sendirian nonton TV di ruang keluarga. Huh bosen banget! Gak ada acara yang menarik, isinya cuma masalah korupsi dan korupsi. Aku sambar ponselku yang ada di meja sebelah. Pada saat bersamaan ada telepon masuk dari Lyla.
“Halo.”
“Cin, kamu buruan ganti baju. Aku jemput kamu sekarang.”
“Kenapa La? Bukannya sekarang kamu sekolah?”
“Pokoknya nurut aja! Oke? Bye!”
“Tap...” tuut...tuut...tuut...
Sopan banget sih asal tutup telepon aja! Ada apa lagi ini? Jantungku berdetak kencang. Langsung aku putar kursi rodaku menuju kamar. Setelah ganti baju aku langsung ke pintu depan. Lyla datang dengan mobulnya. Dia membantuku naik ke mobil tanpa bicara apapun.
“La? Kita mau kemana?” tetap bergeming. Akhirnya...
“Raka masuk Rumah Sakit. Percaya atau nggak, perut Raka ditusuk sama Nicko. Waktu kita ke rumah kamu, ternyata Raka nyamperin Nicko. Karena waktu itu ada Maya, Nicko gak beranni ngapa-ngapain. Tapi besoknya, Maya ninggalin Nicko. Karena ternyata selama hamil 2 bulan itu Maya juga berhubungan intim sama cowok lain, dan dia pergi sama cowok itu. Nicko marah besar, tapi bukannya nyari cowok yang ngambil Maya, dia malah dateng ke kost nya Raka. Dan kamu pasti udah tau kelanjutannya. Aku juga baru tau masalah ini dari temen satu kost Raka. Makanya aku izin dari sekolah dan jemput kamu. Nicko masuk penjara karena mau mbunuh Raka. Raka masuk Rumah sakit, dia pendarahan cukup serius.”
“Te...terus?Gi...gimana Ra...Ka?” aku tertegun mendengar cerita Lyla. Ya Tuhan, aku udah bikin Raka menderita.
“Alhamdulillah Raka selamat. Tapi anehnya, dia terus-terusan manggil nama kamu Cin. Padahal dia belum siuman. Makanya aku ngajak kamu njenguk Raka.”
Aku udah nggak bisa ngomong sepatah kata pun. Di benakku cuma ada Raka. Raka yang tulus sayang sama aku. Raka yang menyadarkan aku. Raka...yang sekarang terbaring lemah karnaku. Ya Tuhan, aku mohon banget. Selamatkan Raka Tuhan, Raka segalanya buat aku.
“Cin...Cin, kita udah nyampe.”
“Eh, nyampe?” aku kaget Lyla memanggilku.
“Ayo buruan!” Lyla mendorong kursi rodaku menuju kamar Raka.
“Dok, Raka gimana? Udah boleh ditengok?”
“Boleh, tapi tolong jangan terlalu dipaksa ya mbak. Dia masih butuh istirahat.”
“Iya dok, terima kasih.”
Aku terpekik melihat sosok yang terbaring dengan infus yang tergantung di atasnya. Dan perut yang terbalut perban berdarah. Itu Raka! Seakan memiliki kekuatan baru, aku berdiri dari kursi rodaku dan perlahan mendekati pembaringan itu. Kugenggam lembut tangan Raka, ku tatap wajahnya. Air matanya menetes perlahan, ku tatap matanya. Mata itu terbuka perlahan, mata yang sangat aku rindukan.
“Itu kamu, Cin?” air mataku sudah tak terbendung lagi. Aku meraung dan memeluk Raka. Raka membelai lembut rambutku.
“Aku udah balas rasa sakit kamu, Cin. Nicko....”
“Justru kamu yang sekarang bikin hati aku sakit! Kenapa kamu ngelakuin semua ini? Aku...aku takut kehilangan kamu Raka!”
“Ssttt...jangan nangis gitu ahh. Ntar kalo suster masuk kamu malah diusir. Aku kan masih kangen sama kamu. Hehe...”
“Kamu! Masih sempet-sempetnya bercanda! Tau gak sih aku khawatir banget sama kamu!”
“Aku gak mau lihat kamu nangis sayang.” tangisku semakin menjadi-jadi.
“Aku sayang kamu Cin.”
“Aku juga sayang kamu Raka.”
Raka tersenyum. Aku berpaling pada Lyla. Lyla pun tersenyum dan mengacungkan ibu jarinya padaku.
“Setelah ini, kalian bisa bahagia berdua. Nggak ada lagi yang harus kalian risaukan.” aku melepas genggaman Raka dan menghambur ke pelukan Lyla.
“Thanks La. Kamu emang sahabat terbaik aku.”
“Sama-sama Cin. Habis ini janji ya nggak nangis lagi?”
“Iya.” itu janjiku. Tuhan, jangan rebut lagi senyum mereka dariku.

7 Bunga Cantik Tetapi Mematikan

7. Daphne
Bunga daphne juga dikenal dengan nama lady laurel atau tanaman surga Seluruh bagian dari bunga ini beracun tapi bagian yang paling beracun terkonsentrasi pada getah dan buahnya. Daphne mengandung mezerine dan daphnin, merupakan racun kuat yang dapat menyebabkan sakit perut parah, sakit kepala,diarhea, kegilaan,dan sawan. jika buah daphne di konsumsi secara berlebihan dapat menyebabkan koma bahkan kematian.



6. Lyly of the valley

lyly of the valley terlihat sangat cantik dan tampak tidak berbahaya tapi jangan tertipu sama seperti daphne bunga ini sangat beracun mengkonsumsi satu atau dua dari bunganya yang berbentuk bell tidak terlalu menyakiti orang dewasa. apabila dimakan dalam jumlah cukup banyak bunga ini menyebabkan rasa sakit di mulut,muntah-muntah,keram di seluruh tubuh, dan diare. racun di bunga ini juga menyebabkan disfungsi jantung dan detak melemah.



5. Belladona

Dikenal sebagai salah satu tumbuhan paling beracun di Barat Hemisphere, Belladona mengandung tropane alkoids yang berpotensi membahayakan. seluruh bagian tanaman ini berbahaya tapi bagian yang paling berbahaya adalah buah nya yang sepertinya enak dimakan, khususnya membahayakan anak2. gejala yang terjadi dari racun bunga ini adalah pupil mata membesar, penglihatan menjadi kabur, sakit kepala, berhalusinasi dan kegilaan. Atropine racun yang terkandung di dalam bunga ini mengganggu sistem saraf membuat gangguan pernapasan, berkeringat dan detak jantung.



4. Angel's Trumpet

jangan terkecoh dengan namanya, tanaman ini mengandung racun yang bisa sangat fatal untuk manusia maupun hewan.terkenal sebagai halusinogen yang sangat sangat kuat karena mengandung zat tropane alkaloids.



3. Rhododendron


tanaman ini apabila musim berbunga tampak sangat indah sekali dari rekaman sebuah xenophon menceritakan tingkah laku yang aneh pada sejumlah pasukan inggris saat memakan madu dari bunga ini. Rhododendron mengandung andromedatoxin yang menyebabkan muntah, rasa sakit yang hebat kejang-kejang hingga kematian.


2. Oleander


Oleander dikenal sebagai salah satu tanaman yang paling beracun di bumi, sering digunakan untuk bunuh diri di selatan India. berbagai macam racun terkandung di seluruh bagian tanaman ini, seperti Oleandrin dan neriine, menyebabkan gangguan sistem saraf, gangguan pencernaan, dan sistem kerja peredaran darah dimana ke semua itu terjadi secara bersamaan. korban akan mengalami gejala kehilangan kesadaran, tubuh bergetar, rasa sakit, koma, hingga kematian. getahnya dapat menyebabkan iritasi kulit dan kebutan pada mata.


1. Autumn Crocus


Juga merupakan salah satu tumbuhan paling beracun di dunia, mungkin ini yang paling beracun. mengandung colchicine, obat mematikan yang biasa digunakan untuk perawatan encok. racun yang terkandung di dalam bunga ini sejenis dengan arsenik yang tidak ada obatnya. keracunan tanaman ini menyebabkan hilangnya tekanan darah dan penyakit jantung.