“Kriiing”.
Bel tanda pelajaran usai pun berbunyi. Teman-teman ku bergegas keluar dari
kelas. Aku menunggu di samping pintu. Koridor penuh sesak dengan siswa-siswi
yang berjejalan menuju gerbang. Aku tidak terlalu suka dengan keramaian, karena
itu aku menunggu.
Beberapa
menit kemudian keramaian itu surut, syukurlah. Aku bergegas keluar dari kelas.
Ups, aku menabrak seseorang. Aku segera memalingkan tubuhku untuk meminta maaf.
“Astaga,
Dina.” wajah itu tersenyum memandangku.
“Sorry.” kataku lagi.
“Haha..
nggak papa kok. Buru-buru ya?” katanya sambil tertawa.
“Iya
nih, jemputanku udah nunggu. Aku males aja kalau harus nerobos anak-anak kayak
tadi. Waktu pulang aja pada nafsu gitu.”
“Haha..
iya lah. Kamu juga pasti mau cepet pulang kan?”
“Hehe..
iya aku udah laper banget nih.”
“Udah
keliatan kok dari muka kamu. Hehe..”
Aku
tersenyum padanya. Kami berjalan sampai di studio musik sekolah. Kami terhenti
lagi oleh kerumunan yang ingin masuk ke Studio. Pasti kakak kelas, pikirku. Karena sekarang memang sudah dimulai
ujian sekolah. Salah satu pelajaran di sekolah kami adalah seni musik. Dan
untuk nilau ujian kelas 3 harus menampilkan pertunjukkan band. Aku melihat ke
pintu studio. Ada Kak Romy di situ. Dasar, sok keren banget sih. Aku benci
sekali padanya.
“Dia
punya banyak fans kan? Temen-temen sekelasku pada ribut ngomongin dia.”
“Hah?
Apa?” aku terkejut oleh pertanyaan Dina yang mendadak itu. Apa dia bisa membaca
apa yang aku fikirkan?
“Itu.
Kak Romy. Tapi kok kamu ngeliatnya kayak gak suka gitu sih?
“Aku
emang gak suka tipe cowok yang kayak gitu. Sok cool banget. Lagian bukan selera aku kok.” dan aku sudah punya
orang yang aku suka. Lanjutku dalam hati.
“Trus,
sukanya yang kayak gimana? Haha..” oh my God! Dasar anak ini.
“Gak
tau ahh. Apaan sih?” wajahku memerah.
“Idih
gak usah malu gitu.” senyumnya nakal sambil mengedipkan matanya padaku.
“Rahasia!
Udah ahh bahas yang lain aja. Gimana Singaphore? Denger kabar kamu habis ke
sana kan?”
“Iya.
Operasi di sana. Tempatnya bagus lho. Bersih juga, pokoknya asik.” aku terdiam
dan mengamati wajahnya. Teman-teman bilang padaku bahwa Dina mempunyai penyakit
yang sudah akut. Maka dari itu dia harus ke Singaphore untuk menjalani
pengobatan.
“Eh,
Ri. Besok Senin angkatan kita camping kan? Wah, asik banget ya. Sayangnya aku
nggak bisa ikut.”
“Kamu
kan harus jaga kesehatan kamu. Besok aku ceritain deh. Hehe..”
“Huu,
masa Cuma diceritain doang? Emang bener sih, tapi aku pengen banget ikut. Tidur
bareng temen-temen di tenda kayak sosis guling. Haha..”
“Apaan?
Haha.. Orang kita Persami kemaren aja kayak gitu.”
“Ya
aku pengen aja. Bisa bareng temen-temen, selagi aku masih hidup.” dia tersenyum
padaku. Hatiku tersayat melihat senyum itu.
“Kok
kamu ngomong gitu sih? Besok ikut aja waktu persiapan. Hari Sabtu.”
“Iya
deh. Aku harap kalian baik-baik aja di sana. Eh, itu jemputanku. Aku duluan
ya?” dia menjabat tanganku dan berlari sambil tersenyum padaku.
“Hati-hati
ya.” Aku berteriak padanya. Dia melambaikan tangan dan tersenyum padaku untuk
yang terakhir. Aku terus mengamatinya sampai mobilnya berbelok di gerbang. Aku
pun berjalan menuju mobilku karena Papa sudah menungguku.
Aku terus teringat senyum Dina.
Senyum yang tulus, matanya seakan memancarkan berjuta harapan. Kata-katanya pun
terngiang di telingaku. “Selagi masih hidup.” Apakah itu ungkapan putus asa,
ataukah untuk menyemangati dirinya sendiri? Entahlah, ku harap bisa melihat
senyum itu lagi.
Akhirnya
dari Sabtu pun tiba. Hari ini tidak ada pelajaran. Hari ini digunakan untuk
persiapan camping hari Senin. Koridor-koridor sangat ramai. Aku memandang canda
tawa itu. Aku berkumpul dengan teman-teman ku sesampainya di kelas. Kami
merencanakan kenakalan-kenakalan yang akan kami lakukan pada saat camping.
Tiba-tiba
ada pengumuman dari speaker. Itu suara Bapak Wakil Kepala Sekolah.
Teman-temanku mengacuhkan pengumuman itu. Namun aku merasa ada yang tidak
beres. Aku meminta teman-temanku untuk diam sebentar.
Keadaan
berubah hening ketika pengumuman itu mulai berkumandang di seantero sekolah.
Pengumuman itu bermain di kepala ku, terus terngiang-ngiang di pikiranku. Aku
tak dapat berkata apa-apa lagi. Begitu pula teman-temanku. Sekolah berubah,
dari gedung yang penuh gelak tawa penghuninya, seolah terenggut nyawa begitu
saja.
“Inalillahi Wainailaihi Raji’un.
Telah meninggal dunia dengan tenang. Sahabat kita, Dina kelas 7B, pada hari
Jum’at yang lalu.......”
Tangis
pun pecah di seluruh penjuru sekolah. Terutama teman sekelas Dina di kelas 7B.
Aku pun tanpa sadar telah meneteskan air mata. Aku menangis tanpa suara. Aku
tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Harapku itu semua hanyalah
mimpi. Hanya khayalanku semata, aku mencoba untuk bangun dari mimpi buruk ini.
Namun percuma, semua itu bukanlah mimpi. Semua itu NYATA! Dina kini telah
tiada. Dia pergi menyisakan senyum dan canda tawa di sekolah ini. Di saat kami
akan melaksanakan acara yang diharapkannya. Dia benar-benar telah tiada.
Hari
ini pun kami berencana pergi melayat ke rumah Dina. Aku tak sanggup. Aku tak
ingin lagi kehilangan teman. Namun apa daya, Tuhan telah memanggil Dina ke
Surga-Nya yang NYATA.



0 komentar:
Posting Komentar